beritaup2date.com

Cerdas Bersama, Tumbuh Setara: Visi Sekolah Rakyat Membangun Generasi Masa Depan

Sekolah Rakyat bukan hanya soal memberi pendidikan gratis, tetapi mempersiapkan generasi (foto. Kemensos)

BERITAUP2DATE.COM, Pemerintah mempercepat transformasi pendidikan lewat Sekolah Rakya, sekolah gratis berasrama yang dirancang untuk memutus rantai kemiskinan dan membuka akses pendidikan setara di seluruh Indonesia.

Tidak hanya menyediakan fasilitas belajar, Sekolah Rakyat dibangun dengan ekosistem digital seperti E-Learning Sekolahku, Sistem Informasi Buku (SIBI), Talent DNA Mapping, hingga dashboard pemantauan siswa. 

Digitalisasi ini menopang pembelajaran berbasis teknologi sekaligus tata kelola yang transparan, efisien, dan melibatkan orang tua.

Baca juga:
Pemerintah Gandeng Sektor Swasta Perkuat Keamanan Ruang Digital

"Sekolah Rakyat bukan hanya soal memberi pendidikan gratis, tetapi mempersiapkan generasi literat digital, terampil, dan siap menghadapi masa depan,” ujar Sekjen Kemensos Robben Rico dilansir dari laman Indonesia.

Setiap sekolah memiliki ruang kelas modern, laboratorium keterampilan, perpustakaan digital, lapangan olahraga, klinik kesehatan, asrama layak huni, kantin bergizi, dan kebun sekolah. Minimal 5 persen kuota disediakan bagi siswa berkebutuhan khusus.

Siswa mendapatkan asrama, makan 3 kali sehari plus snack, layanan kesehatan, perlengkapan belajar, dan laptop. Rekrutmen tanpa tes akademik, fokus pada kondisi sosial-ekonomi, serta pendampingan keluarga.

Baca juga:
Wamenpora Taufik Hidaya, Dukung Persiapan Kejuaraan Dunia Senam 2025 di Jakarta

Tahun 2025 ditargetkan 15.370 siswa belajar di 159 lokasi, didukung 2.807 guru dan 4.442 tenaga kependidikan, dengan rencana penambahan 200 sekolah baru setiap tahun. Sebanyak 53 sekolah siap diresmikan, termasuk 30 yang dibuka pada Agustus ini.

“Presiden tidak ingin kemiskinan diwariskan. Pendidikan adalah jalannya. Ini cara negara memberikan harapan dan membalik yang selama ini dianggap tidak mungkin,” tegas Sekjen Kemensos Robben Rico. 

Semua kebutuhan siswa ditanggung negara, dengan fokus pada pembinaan karakter, gizi, kesehatan, dan pengasuhan 24 jam. Program ini juga mendorong pemerataan pendidikan di daerah terpencil, memacu pertumbuhan ekonomi lokal.

Baca juga:
Polemik Kepemilikan Lahan, Menteri Nusron Klarifikasi dan Minta Maaf

Pendaftaran dilakukan daring melalui kanal resmi Kemensos bagi keluarga prasejahtera (desil 1 atau 2 menurut Data Terpadu Kesejahteraan Sosial Ekonomi Nasional/DTSEN), dengan prioritas bagi yang tinggal di sekitar lokasi sekolah.

Survei nasional mencatat 94,4% masyarakat mendukung program ini, dengan keyakinan dapat menyetarakan pendidikan, menekan angka putus sekolah, dan mengurangi kemiskinan.

Kemkomdigi turut memperkuat program melalui portal Indonesia.go.id dan forum IGID Menyapa, yang menggabungkan literasi digital dan pelatihan jurnalisme publik untuk membangun narasi positif dan inklusif dari masyarakat, untuk masyarakat.

Direktur Informasi Publik Direktorat Jenderal Komunikasi Publik dan Media, Nursodik Gunarjo, menyampaikan bahwa IGID adalah wajah digital Indonesia di mata dunia. 

“Portal ini hadir bukan hanya untuk menyampaikan kebijakan pemerintah, tetapi juga untuk mendengar dan belajar dari masyarakat. Kami ingin konten yang dihadirkan membumi, kontekstual, dan mencerminkan semangat gotong royong bangsa,” ungkapnya.

IGID bertransformasi menjadi platform literasi digital nasional, dengan mengedepankan kolaborasi dari berbagai daerah. "Kami ingin membangun narasi bangsa yang inklusif dari masyarakat, untuk masyarakat. Dengan literasi digital yang kuat, masyarakat bisa lebih berdaya dalam menyuarakan kontribusinya terhadap pembangunan nasional,” ujarnya.

Sekolah Rakyat menjadi gerakan sosial untuk mengubah hidup dari anak yang tak punya kesempatan, menjadi generasi berani bermimpi besar. Dengan semangat “Cerdas Bersama, Tumbuh Setara”, negara berkomitmen menghadirkan pendidikan modern, inklusif, dan merata bagi semua anak bangsa.


×