BERITAUP2DATE.COM, Sejumlah petani di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, mulai meninggalkan metode bertani konvensional yang selama ini mengandalkan musim hujan dan tenaga manusia.
Kini, mereka beralih ke pola pertanian modern yang berbasis teknologi, dengan memanfaatkan alat-alat canggih seperti drone, traktor, dan mesin pertanian lainnya.
Di Desa Taji, Kecamatan Juwiring, teknologi pertanian bukan lagi hal asing. Petani di sana telah terbiasa menggunakan berbagai peralatan modern seperti drone pertanian, rice transplanter, rotavator, traktor, combine harvester, dan cultivator.
Baca juga:
Koperasi Merah Putih di Jateng Siap Diluncurkan Secara Nasional
Transformasi ini terbukti meningkatkan efisiensi kerja, menghemat biaya produksi, dan memberikan hasil panen yang lebih maksimal.
Muhammad Sensus selaku Ketua Kelompok Tani Desa Taji, menyampaikan bahwa pemanfaatan mekanisasi pertanian sangat membantu para petani dalam menghemat waktu dan biaya produksi.
“Kalau memakai mekanisasi pertanian dengan alat-alat yang canggih, ini bisa lebih efisien dan hemat biaya,” ungkap Muhammad Sensus dilansir dari laman NU.
Baca juga:
Tahan Imbang Malaysia, Timnas Indonesia U23 Lolos sebagai Juara Grup A
Ia menjelaskan bahwa sistem tradisional cenderung memerlukan banyak tenaga kerja dan memakan waktu lama, sementara saat ini tenaga buruh di sektor pertanian semakin langka.
“Alat-alat ini sangat membantu petani. Karena bisa lebih cepat dibanding dengan tenaga manusia,” lanjutnya.
Sensus juga menuturkan bahwa drone pertanian dimanfaatkan untuk memantau pertumbuhan tanaman dan menyemprotkan pestisida secara merata, sehingga pengendalian hama menjadi jauh lebih efektif. “Kalau untuk mengendalikan hama, drone ini sangat bagus".
Baca juga:
Polantas Kediri Kota Gencarkan Edukasi Lalu Lintas dari TK hingga Sopir Ekspedisi
Kelompok tani yang ia pimpin terdiri dari sekitar 50 anggota dan mengelola lahan seluas 32 hektare. Mereka telah menggunakan peralatan pertanian modern selama kurang lebih satu tahun, mulai dari tahap pengolahan tanah, penanaman, perawatan, hingga panen.
Sebelum mengenal sistem modern dan membentuk kelompok tani, petani di wilayah tersebut kerap mengalami gagal panen akibat keterbatasan peralatan serta faktor cuaca yang tidak menentu.
“Wah, kalau dulu sering gagal panen. Tapi setelah ada kelompok tani dan juga penggunaan alat seperti ini, jadi panennya bagus,” jelasnya.
Namun, Sensus mengakui bahwa sebagian besar lahan pertanian di daerahnya masih mengandalkan air hujan. Ketika musim kemarau tiba, petani kerap kesulitan mendapatkan pasokan air.
“Kami harap ada solusi terbaik untuk persoalan air di sini. Syukur-syukur ada bantuan sumur dalam. Lahan sudah kami siapkan,” tutup Muhammad Sensus.











