beritaup2date.com

Meneladani Akhlak Rasulullah di Tengah Krisis Keteladanan

Ilustrasi. Meneladani Akhlak Rasulullah di Tengah Krisis Keteladanan (foto. Istimewa)

BERITAUP2DATE.COM, Salah satu penyebab krisis keteladanan di zaman ini adalah karena manusia makin jauh dari akhlak Rasulullah SAW.

Padahal, akhlak beliau bukan sekadar cerita sejarah, melainkan pedoman hidup yang harus dihidupkan dalam tutur kata, sikap, dan hubungan sosial.

Di era ketika kata-kata kasar lebih mudah viral daripada kelembutan, dan kemarahan lebih cepat menyebar dibanding kasih sayang, generasi muda pun tumbuh dalam lingkungan minim teladan. Mereka lebih sering melihat konten viral daripada pribadi yang layak dicontoh.

Baca juga:
Transformasi Pajak Digital: Kebijakan Baru untuk Ekosistem Marketplace

Karena itu, meneladani akhlak Rasulullah SAW bukan sekadar kewajiban moral, tapi kebutuhan utama untuk menata kembali arah hidup umat. 

Rasulullah SAW adalah figur ideal yang hadir membawa kedamaian, kejujuran, kelembutan, dan kasih sayang. Akhlaknya adalah peta jalan menuju ridha Allah.

Bahkan dalam Al-Qur’an, ditegaskan bahwa orang-orang yang mengakui cinta kepada Allah, ia harus mengikuti apa yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Allah berfirman:

Baca juga:
Garuda Muda Raih Kemenangan Kedua, Kokoh di Puncak Grup A Piala AFF U23 2025

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ 

Artinya, “Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali ‘Imran, [3]: 31). 

Meneladani Rasulullah SAW tidak hanya sekadar menunaikan shalat dengan khusyuk atau puasa dengan tekun saja, melainkan juga menghidupkan ruh akhlakul karimah dalam setiap interaksi sosial kita. Ketika kita menjaga lisan dari dusta dan fitnah, itu juga bagian dari ibadah.

Baca juga:
Bareskrim Gerebek 3 Markas Judi Online, 22 Orang Jadi Tersangka

Maka tidak heran, Al-Qur’an memberikan pujian kepada Rasulullah disebabkan akhlaknya yang mulia dan budi pekertinya yang luhur. Allah berfirman:

وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ 

Artinya, “Sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang luhur.” (QS Al-Qalam: 4). 

Sayyidah Aisyah RA pernah menyampaikan bahwa Rasulullah adalah pribadi yang tidak berkata kasar, tidak membalas keburukan dengan keburukan, melainkan memaafkan dan berlapang dada.

Riwayat ini sebagaimana tercatat dalam Musnad HR Ahmad, yaitu:

كَانَ أَحْسَنَ النَّاسِ خُلُقًا لَمْ يَكُنْ فَاحِشًا وَلَا مُتَفَحِّشًا وَلَا سَخَّابًا بِالْأَسْوَاقِ وَلَا يُجْزِئُ بِالسَّيِّئَةِ مِثْلَهَا وَلَكِنْ يَعْفُو وَيَصْفَحُ

Artinya, “Nabi adalah manusia yang paling baik akhlaknya. Nabi tidak pernah berkata keji dan tidak berbuat keji, tidak bersuara keras di pasar, dan tidak membalas keburukan dengan keburukan yang serupa. Namun ia memaafkan dan berlapang dada.” (HR Ahmad).

Tidak hanya itu, Syekh Shafiyurrahman al-Mubarakfuri mengisahkan dalam kitab ar-Rahiqul Makhtum, halaman 62, bahwa pernah suatu ketika, saat pemugaran Ka’bah sedang berlangsung dan pembangunan telah sampai pada bagian Hajar Aswad, terjadi perselisihan antar kabilah perihal siapa yang berhak meletakkan batu mulia itu di tempat semula. Pertikaian semakin memanas dan hampir saja menimbulkan pertumpahan darah di dalam Masjidil Haram.

Karena pertikaian tak kunjung selesai, akhirnya Abu Umayyah bin al-Mughirah menawarkan usulan agar keputusannya diserahkan kepada orang pertama yang masuk masjid dari pintu Masjidil Haram. Dan benar saja, orang pertama yang masuk ke masjid kala itu adalah Rasulullah Muhammad. Dan ketika orang Quraisy melihat itu, mereka berkata:

وَشَاءَ اللهُ أَنْ يَكُوْنَ ذَلِكَ رَسُوْلُ اللهِ، فَلَمَّا رَأَوْهُ هَتَفُوْا هَذَا الْأَمِيْنُ، رَضِيْنَاهُ هَذَا مُحَمَّدٌ

Artinya, “Dan Allah menghendaki bahwa orang itu adalah Rasulullah. Ketika mereka melihatnya, mereka berseru, ‘Inilah al-Amin (yang terpercaya),’ kami rela dia yang melakukannya, ini adalah Muhammad.”

Kisah ini mengajarkan bahwa akhlak Rasulullah tak sekadar narasi sejarah saja, tapi realitas yang mampu meredakan konflik nyata. 

Maka di tengah masyarakat yang mudah tersulut emosi dan gemar mencela, hadirnya pribadi-pribadi yang meneladani Rasulullah menjadi sangat dibutuhkan. Bukan hanya di masjid, tapi juga di rumah, kantor, jalanan, hingga media sosial.

Mari kita jadikan akhlak Nabi sebagai pedoman dalam bersikap, agar kita tidak tersesat di zaman yang miskin teladan ini. Semoga kita semua mampu meneladani Rasulullah, tidak hanya dalam lisan, tapi juga dalam amal dan perilaku kita sehari-hari.


×
×